Kompetisi Taksi Kota Bandung

September 12th, 2006 by indrakh

Photobucket - Video and Image Hosting

Polemik masalah taksi di kota Bandung masih terjadi, kendati tensinya cenderung menurun. Beberapa waktu lalu entah kenapa saya jadi tertarik untuk mencoba beberapa armada taksi yang ada di kota Bandung. “Untuk tahap awal saya mencoba menghubungi no telp salah satu taksi yang tengah naik daun. Seorang wanita yang menerima telpon saat itu menginformasikan kepada saya untuk menunggu, “Tunggu 15 menit, ya pak,” katanya. Namun nyatanya hingga menit ke 27, taksi yang ditunggu belum juga “nongol” didepan rumah saya, baru sekitar menit ke 35 mobil yang ditunggu datang.

Konon taksi ini merupakan yang terbaik dan ternanyardi Bandung saat ini, namun baru membuka pintu lalu duduk saya sudah kurang nyaman dengan kondisinya ; supir agak jutek, AC tidak dinyalakan, ditambah lagi tarif yang digunakan adalah tarif maksimal. Dari Hegarmanah hingga Kiaracondong saya mesti merogoh kocek sebesar 30 ribu rupiah. “Seusai itu saya pikir mungkin hanya kebetulan saja dapat supir taksi yang kurang enak, namun ini jadi satu catatan bahwa standar supir taksi di perusaan tersebut butuh peningkatan lagi. Kesimpulan itu saya ambil, karena sebelum-sebelumnya saya belum pernah dikecewakan oleh taksi berwarna biru langit ini.

Masih penasaran, di hari itu juga saya kembali ingin mencoba taksi. Kali ini saya pilih armada yang sebelumnya kerap menjadi pilihan masyarakat Bandung sebelum kedatangan armada asal Betawi. Baru buka pintu saya sudah disambut ramah sang pengemudi, “Selamat malam , pak,” ujarnya. Di tengah perjalanan bahkan dia mengusulkan jalan-jalan alternatif untuk menghindari kemacetan, dan pilihan dia saya nilai memang tepat. Selain saya dibuat nyaman karena AC-nya on, tarif taksi ini pun masih memakai tarif lama. Dari Jonas hingga hegarmanah atas, saya hanya membayar 13 ribu.

Berbeda dengan armada taksi milik salah satu koperasi di kota Bandung. Saat mencobanya beberapa hari lalu saya benar-benar kecewa. Sudah supirnya tidak ramah, AC tidak jalan, sesampainya di tujuan malah minta tambahan ongkos lagi dari tarif yang tertera di argo. Alasannya karena masuk jalan kecil, katanya. Sungguh alasan yang mengada-ngada.

Yaa, kompetisi taksi di kota Bandung saya pikir kini hanya layak dialamatkan untuk dua armada taksi. Kunci untuk leading bagi mereka adalah Customer satisfaction. Selain kendaraan harus bagus, AC juga mesti berfungsi. Selain harus menggunakan argo yang telah ditera dan tarif sesuai peraturan, keramahan pengemudi juga menjadi kuncinya. Satu lagi adalah para pengemudi harus ngotot menggunakan argo, kendati penumpang ingin borongan. Memang sulit, sih, tapi inilah yang seharusnya.

Sementara bagi armada taksi lain yang enggan merubah diri, enggan menggunakan argo dan kalaupun menggunakannya dengan argo kuda dan cuek bila penumpang kepanasan, saya pikir mereka harus siap-siap semakin tersisih dari kompetisi. Saya jadi ingat penelusuran Tisna Senjaya beberapa waktu lalu di STV dalam acara Kabayan Nyintreuk yang mengangkat tema yang sama. Di sana Tisna mengatakan ketakutannya bia harus naik taksi di kota Bandung.”Saya tuh suka ngadegdeg (gusar) kalau naik taksi, sebentar-sebentar melihat argo, takut kecepetan,” katanya.

Ok, semoga terus ada perbaikan dengan kondisi kendaraan publik di kota ini, supaya masyarakat pun mau beralih ke public transportation. Kesuksesan busway di Jakarta mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi para Planolog ataupun ahli sipil transportasi kota kembang ini.

Picture Courtesy of Pikiran Rakyat

Kamar 17

August 30th, 2006 by indrakh

Sudah hampir empat pekan saya meninggalkan RSHS pasca operasi usus. Alhamdulillah kondisi mulai membaik, kendati belum bisa berjalan seperti biasanya, maklum yang namanya dibedah di perut, perasaannya yaa masih ngilu.

Namun ada hal yang masih “nempel” di otak saya hingga kini, yakni kenangan kamar 17. Entah bagaimana kabar rekan-rekan di sana sekarang. Berbagai kondisi yang dialami kawan-kawan di sana benar-benar membuat saya bersyukur dan bersabar kepada Allah SWT, karena ternyata kondisi saya masih lebih beruntung.

Pak Ono, sebut saja begitu, salah satu kawan satu kamar saya terpaksa menjalani operasi lagi akibat malpraktek yang dilakukan salah satu rumah sakit di barat kota Bandung. Selang bekas operasi batu sepanjang 25 cm lupa dicabut oleh dokter bedahnya di rumah sakit itu.

Lalu pak djas, seorang ahli farmasi terpaksa hanya bisa minum susu setiap hari karena harus dioperasi rahangnya setelah motornya ditabrak oleh pengendara yang ugal-ugalan di perempatan lampu merah. Biaya plat yang akan dipasang di rahangnya pun tidak bisa dibilang sedikit.

Ada juga pak Sugih, salah seorang pekerja industri yang tiba-tiba tak bisa berjalan akibat terjatuh dari ketinggian empat tahun lalu. Yang tak bisa saya lupakan adalah pak Aming. Pensiunan guru yang juga mubaligh ini kerap memberikan tausyiah dan berdiskusi mengenai berbagai hal. Pembahasan tentang sebuah masalah dilengkapi dalili-dalil yang jelas kerap ia terangkan kepada saya. Selama satu pekan di sana, saya merasa seperti mengikuti pesantren kilat dengan beliau. Pak Aming sendiri menderita prostat dan ada gangguan urine lainnya.

Yaa, semoga mereka semua dapat sehat kembali. Pengalaman di kamar 17 benar-benar memberikan hikmah dalam perjalanan hidup ini. Ketika kita berkunjung atau menjadi pasien di RS kita akan semakin yakin, bahwa sehat merupakan karunia Allah yang sangat besar. Karena bila sakit telah menghampiri, kita benar-benar sulit untuk produktif ; Ibadah, pekerjaan dan mengganggu aktivitas lainnya.

Detik Hidup, Iwan Abdulrachman (Abah Iwan)

July 20th, 2006 by indrakh

Photobucket - Video and Image Hosting
Saya mulai mengenal karya-karya Iwan Abdulrachman (Abah Iwan) seperti “Sejuta kabut,” Seribu Mil Lebih Sedepa,” “Melati Putih,” dll lewat acara-acara Bang Lengser dan Kang Ibing di Radio Mara Bandung. Ketika hari Jumat (2/6) saya disodori undangan untuk menonton konser Abah Iwan “Kabar dari Gunung” di Grand Ballroom Hyatt, Jln. Sumatra No.51, Bandung pada Sabtu (3/6) beberapa pekan lalu, tentu betapa girangnya hati saya.

Di tempat konser yang disetting mirip hutan itu, Jendela Ide Kids Percussion tampil sebagai sajian pembuka. Kelompok perkusi yang personelnya terdiri dari para bocah yang kerap manggung di mancanegara itu benar-benar memukau 700-an penonton yang memadati Hyatt.

Sastrawan Iman Soleh kemudian tampil selanjutnya. Ia membawakan puisi berjudul ‘Air, Burung, dan Nenek Moyang. ‘ Penampilannya menggiring penonton untuk semakin masuk dalam suasana alam. Satu hal yang paling diingat saya dari performa Iman Soleh adalah gaya membaca puisinya yang unik. Saat itu, sambil diikuti hentakan kaki seperti melangkah dalam sebuah perjalanan, pria berkumis tebal ini berkata dalam gaya seperti kakek-kakek :…Yaa Hujaan, …Yaa Aiir…”

Seusai Iman Soleh, dan sedikit prolog dari Kang Aat Suratin, acara yang dinanti pun tiba yakni sajian musik balada dengan kemasan akustik penuh pesan dari seorang Iwan Abdulrachman. Malam itu Abah Iwan membawakan sejumlah lagu pilihan soal alam.

Sedikitnya 20 lagu Abah bawakan malam itu, diantaranya lagu Simphoni Pohon Bambu, Tragedi, Badai, Akar, Anak Tarzan, Melati dari Jayagiri, Flamboyan, Mentari, dan Detik Hidup.

Detik-detik berlalu dalam hidup ini
Perlahan tapi pasti, menuju mati
Kerap datang rasa takut, menyusup di hati
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia

Pada hening dan sepi, aku bertanya
Dengan apa ku isi, detikku ini

Kerap datang rasa takut, menyusup di hati
Takut hidup ini tersisi oleh sia-sia

Tuhan kemana kami setelah ini
Adakah Engkau dengar doaku ini

Lagu Detik Hidup, hasil karya Abah di tahun 1976 bagi saya merupakan lagu terbaik dari seorang Iwan Abdulrachman yang telah berbaur dengan alam sekira 45 tahun. Isinya benar-benar penuh nasehat yang dikemas tanpa menggurui. Petikan gitar dan suara khasnya pada lagu itu menyiratkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah dan ada kehidupan kekal menanti.

Malam telah menjelang pergantian hari, sekitar dua jam salah seorang tokoh Wanadri ini akhirnya mengakhiri tausyiah lewat petikan gitarnya malam itu. Sebagian penonton bahkan berkesempatan membawa berbagai bibit pohon dari para petani di Kuningan untuk ditanam di tempatnya masing-masing.

Sop Kaki Kambing H. Saleh Kumis

June 19th, 2006 by indrakh

Sate_saleh_kumis

Satu hal yang kerap menjadi perbincangan seru setiap saya dan rekans pergi ke Jakarta adalah memilih tempat makan. “Mau makan di mana nih kita ?” biasanya seperti itu my bos mengawali pertanyaan. Seusai itu beraneka usulan muncul.

“Padang aja bos !,” “Aah jangan Padang melulu, panas perut neeh…,” diantara kita saling menimpali.

Namun kalau tiba-tiba muncul usulan makan Sop kaki kambing, hampir semua orang yang ada di kendaraan terdiam, tanda setuju.

Bagi saya, makan di kedai Sop kaki kambing H. Saleh Kumis di dekat Jl. Blora sangat mengasyikan. Kendati makan di sana lumayan gerah - karena cuaca panas dan sambalnya yang pedas – namun karena lokasinya sedikit terbuka menjadikan hembusan angin malam membuat kita nyaman.

Bicara masalah rasa ? jangan tanyakan hal itu, karena memang Ueenak Buenerr , coy !!! . Daging dan jeroannya empuk dan rempah-rempahnya pada bumbunya pun terasa.

Porsi sop kaki kambing dalam satu mangkoknya jumbo juga bisa membuat perut seakan meledak, saking banyaknya. Kita akan dibuatnya asyik membongkar daging dari tulang-tulangnya. Saking enaknya biasanya saya bisa nambah lagi porsi nasi.

Tak hanya sop kaki saja yang lezat. Di sini satenya pun pantas untuk dicoba. Selain empuk dan bumbunya khas, juga ukurannya besar-besar. Cuman kalau sate sih rasanya masih kalah dengan Sate Hadhori di Bandung, atau Warung sate Tegal di Kuningan Barat - dekat gedung Cyber.

Anda tertarik mencobanya ?

Gempa Robohkan Rumah Kami

June 4th, 2006 by indrakh

Ujung Berung, Sabtu (27/5) pagi sekitar pukul 06.00. Menurut pengakuan Jatno (43), saat itu ia masih disibukan dengan aktivitas menata tumpukan sound system yang belum sempat ia bereskan, setelah disewa orang lain malam sebelumnya. Ia sungguh tidak tahu jika pada saat yang sama, keluarga dan tetangganya di Sanden, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tengah dilanda perasaan mencekam, takut, panik dan bahkan histeris karena gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang kampungnya.

“Waktu saya nonton televisi jam delapan (08.00 WIB) baru saya kaget, ternyata ada gempa di Jogja dan Jateng,” ungkap Jatno. “Saat itu juga perasaan saya langsung tidak enak, ingat bapak, si mbok dan juga saudara-saudara di kampung.” Apalagi ketika siaran TV terus menerus menyampaikan berita gempa dan korban yang tambah banyak, saya makin tidak tenang,” tambah Jatno.

Ayah dari dua anak ini pantas merasa khawatir, pasalnya saudara dan kerabatnya sebagian besar berada di Yogyakarta. “Reni, adek perempuan saya tinggal di Bantul, sekitar lima puluh meter dari rumah si mbok, adek saya Budi tinggal di Sleman deket Merapi. Keluarga Pak Lik dan Pak Dhe juga ada di Bantul,” katanya.

Menurut Jatno dirinya berkali-kali mencoba menelpon kerumah orang tuanya, namun tidak kunjung mendapat jawaban. Beruntung salah satu adiknya, Reni pada Sabtu siang berinisiatif menelpon ke Bandung untuk memberi kabar tentang kondisi orang tuanya. “Reni memberitahu ke saya kalau bapak dan si Mbok selamat, tapi rumah kami di sana (Bantul) hancur,” kata Jatno.

Kendati demikian karyawan di salah satu perusahaan BUMN ini mengaku masih merasa sedih, pasalnya keluarga Pak Lik dan Pak Dhe-nya hingga kini belum ditemukan. “Nggak tau mereka mengungsi ke mana ? Sampai sekarang saya belum dapet kabar.”

Pada Sabtu siang, ungkap Jatno keluarganya di Bantul telah mengungsi ke Sleman. “Mereka semua mengungsi ke rumah Budi (adik Jatno – red)) di Sleman, soalnya di Bantul kesulitan tempat berteduh. Barang-barang biarkan saja, yang penting jiwa selamat,” tutur dia.

Untuk menambah ketenangan dirinya, pada hari itu juga ia memutuskan untuk memboyong semua keluarga besarnya ke Bandung.

Pada hari Minggu (28/5) sore saya berkesempatan bertemu dengan keluarga Jatno. Mardjono (63), ayah Jatno yang langsung mengalami kejadian gempa Sabtu (27/5) bercerita : “Kala kejadian bencana meniko kulo saweg resik-resik, mboten nyongko-nyongko jobin keroso oyag kiat sanget, kulo dados sadar wonten lindhu, salajengipun kulo tarik garwa kulo medal saking griya (Saat terjadi gempa saya sedang membereskan rumah, namun tiba-tiba lantai terasa bergoncang, kuat sekali. Setelah menyadari apa yang terjadi, kemudian langsung saya tarik istri saya untuk segera meninggalkan rumah),” tutur pak Mardjono.

“Sakmeniko griya kulo sampun mboten sae bentukipun, nanging sakbeneripun griyo inggih teseh saget dilenggahi, kulo sak keluarga inggih teseh wedhi nempati griyo meniko, khawatir menowo lindhu wonten maleh (Kini tempat tinggal saya sudah tidak tentu bentuknya, kendati masih memungkinkan untuk dihuni, namun kami masih takut, khawatir gempa lagi),” katanya.

Hampir senada dengan pak Mardjono, Reni (35) mengaku baru pertamakali mengalami kejadian menakutkan seperti Sabtu (27/5) lalu. “Waktu itu saya lagi buat sarapan buat anak yang mau pergi sekolah, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh, tembok bergetar, debu-debu dari atap juga berjatuhan,” katanya. “Seketika itu pula saya tarik anak saya yang ada di ruang makan untuk segera keluar rumah. Suami yang sedang ada di halaman juga berteriak : gempa…gempa…, ayo keluar, cepat !!” katanya.

Aliran listrik pun menurut Reni langsung mati setelah gempa yang berlangsung hampir satu menit itu terjadi.

Dirinya merasa kaget melihat tempat tinggalnya dan rumah-rumah di sekitarnya sebagian besar hancur diguncang gempa. “Rumah saya mengkhawatirkan, nggak aman buat ditempati,” kata Reni yang sehari-hari mengajar di salah satu SD di Bantul ini.

Di luar, ia menyaksikan semua warga sudah berkumpul. Sebagian bahkan ada yang sudah menaiki kendaraan masing-masing untuk mengungsi ke tempat tinggi akibat adanya isu tsunami.

Kini orang-orang yang kehilangan tempat tinggal seperti Reni tidak hanya satu, namun ribuan. Mereka tersebar di berbagai daerah seperti Klaten, Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul hingga bantul yang mengalami kondisi paling parah. Menurut data terakhir dari Pemerintah D.I Yogyakarta, lewat Sekda DIY Ir. Bambang S Priyohadi, MPA terungkap sedikitnya ada 116.046 rumah penduduk yang rusak (rata dengan tanah, rusak berat dan rusak ringan). (indra kh)***

Menanti TPA Untuk Paris Van Java

May 11th, 2006 by indrakh

Sampah2_1
Rabu, 11 Mei 2006, pukul 11.00 WIB. Sebagian besar pengendara sepeda motor, maupun pejalan kaki yang melewati kawasan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di Jl. Bungur, Bandung tampak menutup hidung. Begitupun dengan para pengguna mobil tak ber-AC, dengan sigap mereka segera menutup kaca jendela sebelum kendaraan mereka melewati area tumpukan sampah setinggi kurang lebih 3 meter. Orang-orang tersebut tentunya enggan menghirup bau sampah yang menyengat.

Kecuali bagi para pemulung atau orang-orang yang mengais rejeki dari timbunan sampah. Demi mencari plastik-plastik bekas, kertas, atau pun kardus yang bisa mereka jual, mau tidak mau mereka tentunya harus rela menghirup bau sampah itu.

Bagi yang sekedar numpang lewat di jalan tersebut, boleh jadi dengan menutup hidung beberapa saat dan memacu kendaraan lebih cepat sudah cukup untuk menghindar dari bau. Namun bagaimana dengan penduduk sekitar TPS ? Tentunya akan menyusahkan bila harus menutup hidung sepanjang hari. Belum lagi ancaman penyakit yang dibawa pasukan lalat yang siap menyambangi tempat tinggal mereka. Ditambah serbuan belatung yang siap menghantui rumah warga.

Seorang ibu setengah baya yang tidak bersedia menyebutkan namanya mengeluhkan kondisi tumpukan sampah di sekitar tempatnya dan menyesalkan lambannya tindakan pemerintah kota. “Penduduk di sini (jl. Bungur – red) sekarang mah banyak yang sakit. Batuk, pilek, sesak napas, bagaimana ini ?” Keluhnya. “Aneh, kalau Persib (Persib Bandung – red) diurus, dikasih bis baru lagi, tapi ngurus sampah meni susah, sudah berbulan-bulan tidak beres !” tambah dia.

Hendra (31), satpam restoran Ilalang, mengeluhkan hal yang sama. Sejak sampah terus menggunung di TPS Bungur, jumlah pengunjung ke rumah makan tempatnya bekerja turun secara drastis.

“Biasanya restoran ini ramai pengunjung, tapi setelah sampah tidak diangkut-angkut, jarang yang mau makan di sini,” tutur Hendra. Pria berbadan tegap ini juga mengeluhkan udara yang semakin tidak nyaman dan tidak sehat, terutama di malam hari.

Hendra berharap Pemerintah Kota dapat segera menanggulangi permasalahan sampah ini, agar tidak mengancam kelangsungan restoran Ilalang yang menjadi tempatnya mencari nafkah.

***
Sejak musibah longsor menimpa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah dan TPS sementara di Cicabe habis masa penggunaannya, tumpukan sampah di berbagai TPS di kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi terus menggunung. Dampaknya, seluruh TPS kini lebih layak disebut sebagai TPA sampah, karena limbah yang ada tidak dipindahkan ke TPA yang semestinya ada.

Di beberapa pasar tradisional yang menjadi tempat “persinggahan“ sampah sementara, tinggi tumpukan yang berkisar antara 3 – 4 meter bahkan kini telah mengganggu aktivitas jual beli. Para pedagang mengaku omset mereka turun secara drastis.

Abdullah, misalnya. Pemuda penjual Cakue di Pasar Sederhana ini mengatakan bahwa jumlah pembelinya kini terus menurun. Hal itu terlihat dari jumlah adonan yang ia buat setiap hari. “Biasanya saya menyiapkan adonan 20 kg, tapi sekarang paling 5 sampai 7 kg,” ungkap Abdullah.

Pendapat tersebut dibenarkan Asep, petugas parkir di lokasi yang sama. Kendati menurutnya ia melihat jumlah pengunjung pasar tidak terlalu jauh berbeda. “Jiga biasa weh kang ari anu ka pasar mah, komo enjing-enjing. Mung anu dagang emameun ngirangan pisan anu meserna da jarijjipen (Pengunjung tetap seperti biasa, begitu pun pagi hari, tetap ramai. Namun para pedagang makanan pendapatannya berkurang, karena pembeli merasa jijik),” kata Asep berbicara dalam bahasa Sunda.

Tak hanya berpengaruh kepada omset penjualan. Kondisi tumpukan sampah setinggi 4 meter di TPS Pasar Sederhana itu telah menyita badan jalan, sehingga menyebabkan kemacetan. Belum lagi polusi udara dari bau sampah. Kendati pihak berwenang dilaporkan telah menaburkan kapur, menyemprotkan desinfektan, dan menutup dengan kain terpal, tetap saja baunya tercium hingga kawasan Jl. Jurang yang berjarak sekitar 1 km. Selain itu, cairan leachate juga dikhawatirkan dapat merembes ke sumur-sumur warga yang bisa membahayakan kesehatan.

Entah sampai kapan tumpukan sampah di berbagai TPS ini akan bertahan, satu pekan ? Satu bulan ? Atau dua bulan ? Kepastian hadirnya TPA baru bagi kota Bandung, Kabupaten Bandung, maupun Kota Cimahi hingga kini masih ditunggu. Namun kabar telah mengerucutnya pemilihan lokasi TPA sampah di kawasan Pasir Legok Nangka, Desa Ciherang, Kec. Nagreg Kab. Bandung sedikit melegakan. Semoga saja prosesnya tidak berlangsung lama. (Indra KH)***

Mengapa Begitu, Mr Iurie ??

April 16th, 2006 by indrakh

Arcanjpg

Minggu kemarin (16/4), sebenernya saya masih betah liburan di lembang, lagi pula biasanya saya pulang sehabis ashar. Namun karena ada bigmatch Persib - PSMS, akhirnya saya mengajak istri untuk segera turun ke Bandung pukul 13.00 WIB. Pertimbangannya, selain khawatir macet, juga supaya lebih rileks nonton skuad Maung Bandung di rumah, hegarmanah.

Pasca dua kekalahan di partai tandang, saya berharap Charis Yulianto dkk termotivasi untuk bisa meraih angka penuh di stadion Siliwangi. Apalagi kehadiran 2 pemain baru, Brahima Traore dan Ayouk Berty diharapkan dapat membuat lini tengah dan depan Persib menjadi hidup.

Tapi, tidak disangka !! Baru babak pertama, Kosin sudah harus memungut bola dari gawangnya dua kali. Persib kandas 0-2 oleh tim Ayam Kinantan. Permainan 1 - 2yang biasanya diperagakan anak-anak Bandung jarang terlihat, koordinasi antar lini, terutama lini belakang sering keliru. Ujungnya, Alejandro Tobar dan Saktiawan Sinaga dengan leluasa membobol gawang tim asuhan Arcan Iurie.

Ada apa ini ?? Mengapa begitu, Mr Iurie ?? kali ini Strategi anda salah besar. Mengapa Kosin yang tengah cedera lutut tetap dipaksakan main ? Padahal Edi Kurnia terbukti bisa bermain baik di babak kedua. Lalu, mengapa anda begitu berani menurunkan 3 striker sekaligus ?? Mengapa Cucu Hidayat dan Erik Setiawan tidak dimainkan dari awal ??

Next,..hari Rabu (19/4) skuad Maung Bandung akan berhadapan dengan PSDS Deli Serdang. Saya berharap Mr Arcan bisa belajar dari kekeliruan hari Minggu kemarin. Semoga kali ini Persib tidak tersandung lagi. Ok, Pemain Persib semua, jangan larut dalam kesedihan, pertandingan selanjutnya sudah menunggu.

Sulitnya Mencari Sumber Air Baku di Kota Besar

April 12th, 2006 by indrakh

Brfh_waterintake

Sabtu (25/6) petang itu puluhan pedagang air keliling tampak berkumpul di sekitar pabrik kue, dekat Situ Aksan, Bandung, Jawa Barat. Gerobak mereka diparkir sesuai urutan kedatangan, untuk menunggu giliran pengisian air dari sumur bor milik salah seorang pengusaha industri rumah tangga setempat. Setiap gerobak rata-rata memuat 10 hingga 12 jerigen air berkapasitas 20 lt. Pemilik sumber air ini memasang tarif seribu untuk satu jerigen. Para pedagang air ini kemudian menjualnya kembali ke masyarakat dengan harga antara 15 ribu hingga 18 ribu rupiah per-gerobak.

Konon sebelumnya para pedagang ini hanya berjualan pada saat musim kemarau tiba. Namun sejak pabrik-pabrik banyak bermunculan di kawasan ByPass (Baca : Soekarno Hatta), Holis, dan Pagarsih di akhir tahun 80 – an, pemandangan lalu-lalang pedagang air keliling ini menjadi sangat mudah dijumpai. Hadirnya industri yang menyebabkan sumur warga setempat mengalami kekeringan menjadi salah satu faktor penyebab menjamurnya pedagang air keliling tersebut. Sungguh ironis, daerah yang dulunya merupakan sisa danau di cekungan Bandung itu kini harus kesulitan air.

Suplai air bersih dari PDAM yang diharapkan warga setempat pun belakangan sangat sulit diandalkan. Bila pun mengalir, itu baru datang saat tengah malam tiba, dan tak jarang baru mengalir saat dini hari menjelang subuh. Jangan bayangkan airnya mengalir deras seperti air pancuran. Bisa mengalir sebesar ekor tikus pun sudah bagus.

Kondisi di atas hanyalah satu contoh kasus. Keadaan serupa kini marak dijumpai di berbagai daerah, terutama di kota-kota besar. Di masa kini, penduduk harus berjuang ekstra demi mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Berbagai alternatif solusi dicari oleh masyarakat. Salah satunya tentu dengan membeli dari pedagang air keliling. Kendati bagi sebagian orang, membeli air bersih ini sangat berat, mengingat harganya yang tidak murah.

***
Air bersih memang merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Untuk mendapatkan sumber air beberapa dekade lampau kondisinya tidak sesulit sekarang. Mata air banyak, air dari sumur berlimpah, bahkan air permukaan pun masih layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun laju pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi dalam tahun-tahun belakangan ini, terutama pada kawasan perkotaan menyebabkan kebutuhan air bersih terus meningkat. Bandung saja contohnya. Dengan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa dan asumsi kebutuhan air bersih per hari perorang sebanyak 150 liter, maka kebutuhan air yang harus tersedia sekira 140 juta m3/tahun. Kebutuhan air bersih untuk industri diperkirakan mencapai 132 juta m3/tahun, sedangkan untuk keperluan sosial (tempat ibadah dll.) dan perkantoran diperkirakan mencapai 30 juta m3/tahun. Dengan demikian, kebutuhan air bersih di kota ini mencapai 302 juta m3/tahun.

Sedangkan pemenuhan kebutuhan air bersih yang disediakan melalui PDAM Kota Bandung, seperti dikutip Pikiran Rakyat baru bisa menyediakan sekira 560 liter/detik atau 17 juta m3/tahun, dengan proporsi sumber air bakunya 40% berasal dari air permukaan dan 60% dari air tanah.

Padahal bila kita berbicara sumber air baku dari mata air atau air tanah, semakin hari jumlahnya bukan bertambah justru semakin berkurang. Hal itu terjadi seiring dengan banyaknya perubahan peruntukan lahan terutama di daerah-daerah resapan air, maupun penempatan industri yang tidak sesuai tata ruang.

Untuk air permukaan, nasibnya pun tak jauh berbeda. Kualitas air buangan baik berupa grey water maupun black water dari rumah tangga dan industri yang tidak sesuai standar turut andil mencemarkan air permukaan. Hal ini menjadikan memilih air permukaan sebagai sumber air baku menjadi opsi terakhir, karena mahalnya biaya pengolahan.

Bila hal itu dibiarkan terus tanpa penanganan serius, bukan tak mungkin harga air akan terus membumbung layaknya harga BBM, akibat sulitnya mencari sumber air baku dan mahalnya biaya pengolahan.

***
Untuk mengembalikan kondisi cadangan air memang tidak semudah membalikan telapak tangan, karena membutuhkan waktu yang lama hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Namun setidaknya anda dapat berperan untuk memulai langkah tersebut.

Usaha penyelamatan air bukanlah upaya yang mengada-ada, karena bisa dimulai sejak di pekarangan rumah kita sendiri. Bagi anda yang masih memiliki sedikit lahan di rumahnya, kini bisa memulai untuk membuat sumur-sumur resapan, atau menghijaukan kembali pekarangan rumah dengan aneka tanaman.

Sedapat mungkin, hindari penggunaan lantai semen atau keramik di luar rumah atau pada pembuatan car port. Sebagai gantinya anda dapat menggantinya dengan paving blok, agar air hujan dapat meresap ke dalam tanah, tidak lagi sekedar lewat menjadi run off. Itu pun dengan catatan setiap dua tahun sekali harus dibongkar pasang atau diganti baru supaya air tetap dapat melewat celah-celah paving blok.

Untuk penghematan penggunaan air, bila memungkinkan lakukan pengolahan kembali atau gunakan air bekas rumah tangga untuk kebutuhan lainnya. Misalnya penggunaan air bekas wudhu untuk menyiram tanaman.

Langkah-langkah di atas hanyalah beberapa contoh kecil, tentunya masih banyak langkah lain yang dapat anda lakukan untuk mengembalikan cadangan air, maupun tips penghematan lainnya.

Semoga Hari Air Seluruh Dunia pada 22 Maret lalu mengingatkan kita kembali, bahwa cadangan air baku atau air bersih terutama di kota-kota besar sudah semakin sulit didapat. Bila tidak kita mulai sekarang untuk turut berperan mengembalikannya, lalu kapan lagi ? (Indra KH)***