Archive for June, 2006

Sop Kaki Kambing H. Saleh Kumis

Monday, June 19th, 2006

Sate_saleh_kumis

Satu hal yang kerap menjadi perbincangan seru setiap saya dan rekans pergi ke Jakarta adalah memilih tempat makan. “Mau makan di mana nih kita ?” biasanya seperti itu my bos mengawali pertanyaan. Seusai itu beraneka usulan muncul.

“Padang aja bos !,” “Aah jangan Padang melulu, panas perut neeh…,” diantara kita saling menimpali.

Namun kalau tiba-tiba muncul usulan makan Sop kaki kambing, hampir semua orang yang ada di kendaraan terdiam, tanda setuju.

Bagi saya, makan di kedai Sop kaki kambing H. Saleh Kumis di dekat Jl. Blora sangat mengasyikan. Kendati makan di sana lumayan gerah - karena cuaca panas dan sambalnya yang pedas – namun karena lokasinya sedikit terbuka menjadikan hembusan angin malam membuat kita nyaman.

Bicara masalah rasa ? jangan tanyakan hal itu, karena memang Ueenak Buenerr , coy !!! . Daging dan jeroannya empuk dan rempah-rempahnya pada bumbunya pun terasa.

Porsi sop kaki kambing dalam satu mangkoknya jumbo juga bisa membuat perut seakan meledak, saking banyaknya. Kita akan dibuatnya asyik membongkar daging dari tulang-tulangnya. Saking enaknya biasanya saya bisa nambah lagi porsi nasi.

Tak hanya sop kaki saja yang lezat. Di sini satenya pun pantas untuk dicoba. Selain empuk dan bumbunya khas, juga ukurannya besar-besar. Cuman kalau sate sih rasanya masih kalah dengan Sate Hadhori di Bandung, atau Warung sate Tegal di Kuningan Barat - dekat gedung Cyber.

Anda tertarik mencobanya ?

Gempa Robohkan Rumah Kami

Sunday, June 4th, 2006

Ujung Berung, Sabtu (27/5) pagi sekitar pukul 06.00. Menurut pengakuan Jatno (43), saat itu ia masih disibukan dengan aktivitas menata tumpukan sound system yang belum sempat ia bereskan, setelah disewa orang lain malam sebelumnya. Ia sungguh tidak tahu jika pada saat yang sama, keluarga dan tetangganya di Sanden, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tengah dilanda perasaan mencekam, takut, panik dan bahkan histeris karena gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang kampungnya.

“Waktu saya nonton televisi jam delapan (08.00 WIB) baru saya kaget, ternyata ada gempa di Jogja dan Jateng,” ungkap Jatno. “Saat itu juga perasaan saya langsung tidak enak, ingat bapak, si mbok dan juga saudara-saudara di kampung.” Apalagi ketika siaran TV terus menerus menyampaikan berita gempa dan korban yang tambah banyak, saya makin tidak tenang,” tambah Jatno.

Ayah dari dua anak ini pantas merasa khawatir, pasalnya saudara dan kerabatnya sebagian besar berada di Yogyakarta. “Reni, adek perempuan saya tinggal di Bantul, sekitar lima puluh meter dari rumah si mbok, adek saya Budi tinggal di Sleman deket Merapi. Keluarga Pak Lik dan Pak Dhe juga ada di Bantul,” katanya.

Menurut Jatno dirinya berkali-kali mencoba menelpon kerumah orang tuanya, namun tidak kunjung mendapat jawaban. Beruntung salah satu adiknya, Reni pada Sabtu siang berinisiatif menelpon ke Bandung untuk memberi kabar tentang kondisi orang tuanya. “Reni memberitahu ke saya kalau bapak dan si Mbok selamat, tapi rumah kami di sana (Bantul) hancur,” kata Jatno.

Kendati demikian karyawan di salah satu perusahaan BUMN ini mengaku masih merasa sedih, pasalnya keluarga Pak Lik dan Pak Dhe-nya hingga kini belum ditemukan. “Nggak tau mereka mengungsi ke mana ? Sampai sekarang saya belum dapet kabar.”

Pada Sabtu siang, ungkap Jatno keluarganya di Bantul telah mengungsi ke Sleman. “Mereka semua mengungsi ke rumah Budi (adik Jatno – red)) di Sleman, soalnya di Bantul kesulitan tempat berteduh. Barang-barang biarkan saja, yang penting jiwa selamat,” tutur dia.

Untuk menambah ketenangan dirinya, pada hari itu juga ia memutuskan untuk memboyong semua keluarga besarnya ke Bandung.

Pada hari Minggu (28/5) sore saya berkesempatan bertemu dengan keluarga Jatno. Mardjono (63), ayah Jatno yang langsung mengalami kejadian gempa Sabtu (27/5) bercerita : “Kala kejadian bencana meniko kulo saweg resik-resik, mboten nyongko-nyongko jobin keroso oyag kiat sanget, kulo dados sadar wonten lindhu, salajengipun kulo tarik garwa kulo medal saking griya (Saat terjadi gempa saya sedang membereskan rumah, namun tiba-tiba lantai terasa bergoncang, kuat sekali. Setelah menyadari apa yang terjadi, kemudian langsung saya tarik istri saya untuk segera meninggalkan rumah),” tutur pak Mardjono.

“Sakmeniko griya kulo sampun mboten sae bentukipun, nanging sakbeneripun griyo inggih teseh saget dilenggahi, kulo sak keluarga inggih teseh wedhi nempati griyo meniko, khawatir menowo lindhu wonten maleh (Kini tempat tinggal saya sudah tidak tentu bentuknya, kendati masih memungkinkan untuk dihuni, namun kami masih takut, khawatir gempa lagi),” katanya.

Hampir senada dengan pak Mardjono, Reni (35) mengaku baru pertamakali mengalami kejadian menakutkan seperti Sabtu (27/5) lalu. “Waktu itu saya lagi buat sarapan buat anak yang mau pergi sekolah, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh, tembok bergetar, debu-debu dari atap juga berjatuhan,” katanya. “Seketika itu pula saya tarik anak saya yang ada di ruang makan untuk segera keluar rumah. Suami yang sedang ada di halaman juga berteriak : gempa…gempa…, ayo keluar, cepat !!” katanya.

Aliran listrik pun menurut Reni langsung mati setelah gempa yang berlangsung hampir satu menit itu terjadi.

Dirinya merasa kaget melihat tempat tinggalnya dan rumah-rumah di sekitarnya sebagian besar hancur diguncang gempa. “Rumah saya mengkhawatirkan, nggak aman buat ditempati,” kata Reni yang sehari-hari mengajar di salah satu SD di Bantul ini.

Di luar, ia menyaksikan semua warga sudah berkumpul. Sebagian bahkan ada yang sudah menaiki kendaraan masing-masing untuk mengungsi ke tempat tinggi akibat adanya isu tsunami.

Kini orang-orang yang kehilangan tempat tinggal seperti Reni tidak hanya satu, namun ribuan. Mereka tersebar di berbagai daerah seperti Klaten, Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul hingga bantul yang mengalami kondisi paling parah. Menurut data terakhir dari Pemerintah D.I Yogyakarta, lewat Sekda DIY Ir. Bambang S Priyohadi, MPA terungkap sedikitnya ada 116.046 rumah penduduk yang rusak (rata dengan tanah, rusak berat dan rusak ringan). (indra kh)***