Paint Ball, Simulasi Tempur Pemicu Adrenalin

March 14th, 2007 by indrakh

"Ketika pandangan ini mulai menangkap gerakan lawan
berpakaian loreng memakai body protektor hitam, sontak saja jari ini menekan
picu. Dor ! Dor ! Dor ! Dor ! Entah berapa kali saya memuntahkan peluru cat ke sasaran.
Salah seorang wasit kemudian berteriak : “Hit ! Hit ! Hit !,”

Paint1

"Kedua kubu
bergaya sebelum pertempuran dimulai"

Selengkapnya baca di : Paint Ball, Simulasi Tempur Pemicu Adrenalin

Mencari Kedai Sate yang Enak

January 15th, 2007 by indrakh

Berbagai kedai sate pernah saya kunjungi, kendati mungkin jumlahnya belum sebanyak Anda. Untuk Kota Bandung, Jakarta dan sekitarnya ada beberapa lokasi yang layak Anda pilih. Mungkin tulisan ini hanya membahas beberapa lokasi saja. Boleh jadi anda memiliki referensi lain yang lebih mumpuni.

Selengkapnya di Mencari Kedai Sate yang Enak

Hidup di Gedung Tinggi

January 10th, 2007 by indrakh

lah..Saya merasa lebih kerasan tinggal di pemukiman biasa, yang kental dengan persaudaraannya. Saya lebih membutuhkan tetangga yang siap membantu ketika kita kesulitan. Saya lebih merindukan sapaan ramah orang-orang yang melewati rumah kita…


Apartemen

Kian minimnya lahan kosong untuk perumahan membuat pengembang pemukiman
kini melebarkan lahannya secara vertikal. Di kota-kota besar bangunan apartemen mulai bermunculan. Para pengelolanya menawarkan berbagai fasilitas menggiurkan dengan beraneka konsep pembayaran. Dulu saya sering bertanya-tanya ”Apa sih bedanya tinggal di apartemen dibandingkan pemukiman biasa”? Apa enaknya dan apa nggak enaknya ? Dan kini saya sudah menemukan jawabannya.

Sekira tiga bulan lalu, sebuah kamar apartemen di kawasan Slipi, Jakarta menjadi tempat singgah atau menginap bagi saya dan rekan-rekan jika ada perjalanan dinas di sana.

Dari sisi keamanan, secara sepintas apartemen mengaplikasikan tingkat keamanan lebih dibanding perumahan biasa. Diantaranya, penjagaan satpam di pintu masuk dan lokasi strategis, CCTV yang bisa dimonitor penghuni via televisi, dan akses lift dengan RFID. Memang bila dibandingkan dengan perumahan-perumahan atau cluster elit, konsep ini tidak terlalu jauh berbeda.

Dari sisi fasilitas, apartemen juga menawarkan konsep one stop service. Adanya akses internet, tv kabel, minimarket, cafe dan restoran, laundry, kolam renang dan pusat kebugaran didesain pengelola apartemen untuk memudahkan penghuni agar mereka tidak perlu keluar area untuk memenuhi kebutuhannya. Konsep seperti ini pun saya pikir tidak berbeda jauh dengan yang telah diaplikasikan kota-kota baru atau kota satelit di pinggiran kota besar, seperti BSD, Lippo Karawaci, atau Kota Baru Parahyangan.

Hidup di apartemen memang mengasyikan, namun entah mengapa saya merasa ada yang hilang dari kehidupan seperti itu, yakni kekeluargaan dan kehidupan sosial. Kehidupan di gedung tinggi menurut pengamatan saya cenderung individualistik elitis. Bertemu dengan tetangga sebelah kamar pun mereka enggan menyapa. Menggunakan space parkir orang lain tidak pernah merasa bersalah, cuek saja. Ketika kepergok si empunya juga jangankan hadir kata maaf dari lisannya, sapaan sedikit saja tidak keluar dari mulutnya.

Saya merasa lebih kerasan tinggal di pemukiman biasa, yang kental dengan persaudaraannya. Saya lebih membutuhkan tetangga yang siap membantu ketika kita kesulitan. Saya lebih merindukan sapaan ramah orang-orang yang melewati rumah kita. Saya merasa lebih nyaman melihat pemandangan pekarangan rumah yang hijau diisi tanaman dan apotek hidup ketimbang pemandangan jalanan ibukota yang sarat kemacetan dari balik jendela apartemen.

Di apartemen tidak ada lagi pedagang keliling yang menjajakan dagangannya. Di apartemen saya tidak menyaksikan ibu-ibu rumah tangga maupun para pembantu mengerumuni tukang sayur untuk bahan memasak di hari itu. Di apartemen juga saya tidak menyaksikan pertandingan sepakbola, tenis meja atau bola voli antar kampung. Di apartemen juga saya tidak melihat lalu-lalang anak-anak kecil yang asyik bermain petak umpet dan saling kejar-kejaran.

***

Puihhh, lelah juga membanding-bandingkan hal seperti ini. Hidup di gedung tinggi (apartemen) ternyata ada enaknya dan juga ada tidak enaknya. Kalau anda lebih kerasan tinggal di mana ?

"Tulisan Indra KH lainnya bisa dilihat di indrakh.blogspot.com

Makan Seafood di Benhil Diiringi Live Musik

December 7th, 2006 by indrakh

Mereka cukup apik saat memainkan lagu-lagu Reggae seperti
Welcome to my Paradise-nya Steven & Coconuttreez. Begitupun saat membawakan
lagu Killing me Softly yang pernah dipopulerkan Fugees. Mereka juga bahkan cukup
piawai ketika mengiringi salah seorang pengunjung yang meminta lagu Jablay dari
OST Mendadak Dangdut yang dipopulerkan Titi Kamal.

Selengkapnya bisa dilihat di :

indrakh.blogspot.com

Perjalanan Subuh Yang Melelahkan

November 29th, 2006 by indrakh

Hal lain yang diluar dugaan adalah terjadi genangan banjir yang cukup
tinggi di beberapa tempat yang dilalui. Bahkan saya sangat kaget ketika
sebuah minibus tiba-tiba menyalip sepeda motor yang saya kendarai
dengan kecepatan tinggi di kawasan Lebak Siliwangi. Padahal saat itu
saya tengah memperlambat kecepatan kendaraan karena banjir dan
menghindari berbagai sampah jalanan yang berceceran karena terbawa
aliran air. Akibat ulah pengemudi minibus itu, genangan banjir menjadi
meluap ke atas badan saya, dan membasahi seluruh pakaian.

Cerita di atas adalah sekilas pengalaman saya saat akan berangkat ke Jakarta Senin (27/11) lalu. Judul ini telah saya upload di blog yang lain pada Senin (27/11) malam. Selengkapnya bisa dilihat di :
indrakh.blogspot.com

Aah, si Dia Datang Lagi

November 16th, 2006 by indrakh

Photobucket - Video and Image Hosting
Semegah ataupun semewah apapun rumah anda, bila hewan ini telah berkunjung ke tempat anda, saya jamin akan banyak menyita ketenangan dan kenyamanan. Apalagi bila kediaman kita tak seluas rumah orang-orang kaya di permata hijau atau setraduta, alias segitu-gitunya, pasti gangguan si dia ini kian terasa menyempitkan kediaman kita.

Sudah tiga hari dia menampakan diri lagi di rumah saya, setelah cukup lama tidak muncul. Tikus got seukuran marmut itu muncul lagi di sekitar ruangan dapur dan kamar mandi. Saat malam datang, tak jarang si monyong ini mengganggu lelap tidur kita akibat ulahnya menjatuhkan barang-barang di dapur.

Yang membuat bertambah jengkel adalah aksinya dalam membongkar tempat sampah, bahan makanan maupun wadah bumbu. Di pagi hari, sisa-sisa penjarahannya membuat kotor lantai dapur. Belum lagi penjelajahannya di atas rak piring yang kerap kita pergoki saat akan ke dapur atau kamar mandi kamar mandi. Ulahnya itu menambah pekerjaan kita untuk mencuci ulang dengan air panas terhadap barang yang akan kita gunakan, karena khawatir jejaknya membawa penyakit.

Setelah usaha menaklukannya dengan perangkap tikus beberapa waktu lalu kerap berbuah kegagalan, kemarin akhirnya saya putuskan untuk mencoba lem tikus. Di atas karton yang telah dibubuhi lem tikus itu saya taburkan sedikit terasi dan nasi untuk daya tarik. Semoga saja usaha ini berhasil.

Benar saja, pagi keesokan harinya seekor tikus terperangkap di atas lem itu. Tapi kenapa yang tertangkap ini tikus yang berbeda ??? Tikus yang ini lebih kecil dan bukan hewan target operasi saya ?? Rupanya dia tak hanya satu, namun ada juga temannya.

Hingga tadi tikus got sebesar marmut itu belum juga tertangkap, entah kapan operasi ini berakhir.

Kalau dipikir kenapa yaa dia datang lagi, mungkin hikmahnya supaya produk lem tikus ada yang beli, hehehe.

Ada yang punya tips lain ? Boleh sepertinya kita berbagi.

Picture Courtessy of http://www.doyourownpestcontrol.com

Akhirnya Bandung Diguyur Hujan

October 12th, 2006 by indrakh

Hujan_1

Setelah mengalami kemarau yang panjang, sebagian kota Bandung akhirnya diguyur hujan Kamis (12/10) malam. Kendati hanya sekitar 25 menit namun guyuran hujan cukup berperan dalam mengurangi debu-debu yang semakin tebal belakangan ini.

Alhamdulillah, menjelang 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, cuaca yang sebelumnya panas menyengat perlahan-lahan kini menjadi lebih sejuk.

Pun begitu yang saya rasakan Jumat (13/10) pagi, menjelang berangkat ke tempat kerja. Penutup hidung yang biasanya saya gunakan saat mengendarai sepeda motor pun pagi tadi enggan saya gunakan, karena ingin menghirup segarnya udara pagi yang sekian lama menghilang.

Semoga musim hujan yang mulai datang menambah keberkahan bulan Ramadhan 1427 H, aamiin.

Picture Courtesy : rymza.blogdrive.com

Tempat Ibu dan Anak di BSM

October 5th, 2006 by indrakh

Ibu_dan_anak

Pekan lalu, saya bersama beberapa rekan mengunjungi Bandung Super Mal (BSM). Tujuannya hanya sekedar jalan-jalan, sambil menunggu kelarnya pesanan roll banner untuk kepentingan promosi layanan mobile di kota Cirebon.

Lumayan lama juga saya tidak berkunjung ke tempat  perbelanjaan di selatan kota Bandung itu. Kondisinya jauh berbeda dibanding beberapa tahun silam saat saya masih sering berkunjung ke tempat itu bersama kawan-kawan kampus.

Penurunan drastis tampak jelas dari sisi pengunjung yang biasanya memenuhi counter-counter yang ada di mal milik Para Group itu. Oh, iya saya masih ingat, dulu bila kita akan berbuka puasa di food court-nya BSM mesti rela mengantri, saking banyaknya orang yang ingin tajil dan makan malam di sana. Kini pemandangan seperti itu tidak tampak lagi.

Kendati demikian ada sebuah tempat yang menarik saya  saat itu, yakni lokasi khusus bagi ibu menyusui yang diberi nama “Tempat Ibu dan Anak.” Bagi saya keberadaan tempat tersebut menjadi kredit point khusus bagi BSM. Mengapa demikian ? Karena kenyamanan seorang ibu dalam memenuhi kebutuhan makanan sang bayi menjadi faktor penting, dan BSM memahami kepentingan itu. Seorang ibu menyusui pasti merasa risih jika harus menyusui balita mereka di tempat umum. Namun terkadang desakan tangisan sang bayi akhirnya memaksa ibu untuk menyusui anaknya saat itu juga. Nah, keberadaan tempat ibu dan anak ini jelas merupakan fasilitas yang  berguna. Salut untuk anda, BSM !!

Mungkin bagi mal atau pusat perbelanjaan lainnya yang belum menyediakan fasilitas serupa, bisa mencontoh keberadaan tempat ibu dan anak di BSM ini. Bagi yang sudah memiliki saya acungkan jempol pula untuk anda !!.

Satu hal lagi yang selayaknya menjadi perhatian pengelola mal adalah keberadaan mushola. Selama ini kebanyakan pengelola cenderung memilih basement yang pengap dan panas sebagai lokasi tempat ibadah, padahal bila mereka menempatkannya di lokasi yang dekat dengan para tenant alangkah lebih baik, dan tentu menjadi kredit point tersendiri dari para pengunjung.

Picture courtesy : Setyadjie Kuntowibisono

Maut Menjemput Usai Sabung Ayam

September 26th, 2006 by indrakh

Photobucket - Video and Image Hosting
Menjelang Ramadhan tiba, sebagian masyarakat kita kerap memulainya dengan kegiatan silaturahmi keluarga. Aktivitas tersebut ada yang memanfaatkannya sebagai sarana ishlah, saling berma’afan satu sama lain, atau pun untuk sekedar berkumpul saja.

Begitu juga yang keluarga besar kami lakukan. Sabtu (23/9) sore itu, kami sengaja berkumpul di rumah untuk bersilaturahmi setelah sekian lama tidak bertemu. Namun, saat saya bersama beberapa orang saudara dan kerabat tengah asyik mengobrol di depan rumah, tiba-tiba kami dikejutkan oleh kedatangan seorang nenek berusia sekitar 70 tahun. Setahu saya, wanita lanjut usia ini agak sedikit terganggu jiwanya, sehingga waktu itu awalnya kami tidak terlalu menghiraukan ucapannya. “Waah maenya gara-gara ngadu hayam, kalakah jelema anu maot (Waah, masa gara-gara sabung ayam, malah manusia yang meninggal),” katanya seraya menunjukan jari tangannya ke arah barat desa.

Setelah beberapa lama kami akhirnya menjadi penasaran dengan perkataan sang nenek itu. Bersama ayah mertua, saya pun kemudian berangkat menuju tempat yang ditunjukannya, jaraknya sekira 100 meter dari rumah. Benar saja, setibanya di lokasi ternyata telah berkumpul beberapa orang yang tengah mengelilingi salah seorang pria paruh baya yang telah meninggal dunia. Bapak tersebut hanya dibaringkan di teras sebuah rumah dan ditutupi sehelai kain.

Salah seorang pemuda yang turut menjadi saksi mata menuturkan kepada saya bahwa bapak tersebut tiba-tiba saja terjatuh di perkebunan yang berada di lembah sebrang daerah kami. Kepada sang pemuda, dia mengeluh kecapaian setelah berusaha kabur dari kejaran polisi yang menggerebek arena sabung ayam di desa tetangga. “Tadi mah waktos teu acan pupus, bari ngos-ngosan anjeuna nyarios nuju kabur ti udagan pulisi anu ngagerebeg tempat anjeuna ngiringan ngadu hayam (Sebelum meninggal ia berkata sambil terengah-engah bahwa ia kabur dari kejaran polisi yang menggerebeg tempatnya mengikuti sabung ayam),” katanya.

Hal tersebut kemudian dibenarkan oleh salah seorang kerabatnya yang juga turut berlari bersama korban karena berusaha kabur dari kejaran polisi. “Si akang mah boga asma jadi pas lumpat jauh satarikna jigana kacapean nepi kapiuhan, ngan teu nyangka bakal tuluy maot (Bapak tersebut memiliki asma, jadi ketika lari cepat dalam jarak yang jauh kemungkinan kecapaian hingga pingsan, namun tidak disangka akhirnya akan meninggal),” tutur dia.

Mendengar kabar kematian tersebut, penduduk desa pun terus berbondong-bondong, mereka penasaran ingin melihat tempat kejadian. Melihat gelombang massa yang kian bertambah, tokoh masyarakat setempat kemudian berinisiatif untuk segera membawa jenasahnya ke rumah keluarganya di desa tetangga. Hingga kini saya sendiri tidak mengetahui apakah aparat keamanan setempat melakukan autopsi atau menyelidiki kasus kematiannya atau tidak.

Maghrib tinggal beberapa menit lagi tiba, namun masyarakat masih banyak yang berkumpul di sudut-sudut desa. Mereka masih ramai membicarakan kasus yang menghebohkan itu. Dari perbincangan mereka pada umumnya mereka menyayangkan kematiannya yang hanya beberapa jam menjelang Ramadhan namun sebelumnya terlibat judi sabung ayam. “Leuh meuni kaduhung pisan, sakedap deui sasih shaum anjeuna pupus saatos ngadu hayam (Sangat disesalkan, sebentar lagi masuk bulan Ramadhan, namun ia harus meninggal seusai sabung ayam),” ujar salah seorang ibu kepada tetangganya. Namun tetangga itu kemudian menjawab : “Mugi-mugi urang mah tau maot jiga kitu, tapi ketang saha anu terang anjeuna kabujeng tobat waktos kabur ti udagan pulisi, anging Pangeran anu terang eta mah (Mudah-mudahan kita tidak meninggal dengan cara seperti itu, namun siapa tahu ia sempat taubat terlebih dahulu saat kabur dari kejaran polisi, hanya Allah-lah yang Tahu).”

Yang menarik, biasanya menjelang sahur di desa kami banyak kelompok remaja dan pemuda yang bermain musik dapur untuk membangunkan sahur. Namun seusai kejadian, aktivitas mereka mendadak lenyap. Dini hari yang biasanya gaduh kini menjadi sepi. Entah kenapa, mungkin mereka takut dengan kejadian beberapa hari lalu. Wallahu a’lam (Indra KH)***

Picture courtesy of www.hallefreun.de

Ada Damai di Dongmakgol

September 14th, 2006 by indrakh

Photobucket - Video and Image Hosting

Dongmakgol hanyalah sebuah desa di kawasan pegunungan Korea. Mayoritas penduduk di sana adalah petani/ peladang jagung dan kentang. Mereka hidup damai, tak mengenal permusuhan dan peperangan. Kondisi itu mulai berubah saat pesawat yang ditumpangi seorang serdadu AS bernama kapten Smith (Steve Tascher) jatuh, akibat gangguan ribuan kupu-kupu yang hidup di kawasan tersebut.

Perubahan suasana kian bertambah tak lama setelah Dongmakgol kedatangan dua orang tentara Korea Selatan yang tersesat. Mereka adalah Letnan Pyo (Shin Ha Kyun) dan staff medis Moon Sang sang (Seo Jae gyung). Penduduk Dongmakgol yang tak mengenal perang bahkan merasa aneh dengan dandanan kedua serdadu itu. Mereka menyebut tentara dengan seragam dan senjata lengkap dan bertopi baja itu sebagai “serigala” bertopi labu dan bertongkat panjang.

Kedamaian yang ada di Dongmakgol mulai terusik saat seorang gadis yang mengalami gangguan jiwa bernama Yeo il (Kang hye Jeong) yang juga anak dari kepala desa Dongmakgol secara tak sengaja “menuntun” arah tiga orang serdadu Korea Utara yang kabur dari medan tempur perang Korea ke desa tersebut. Mereka adalah Komandan Lee (jeong jae young), Jang yong hee (im ha ryong) dan Taeg ki (Ryoo Deok hwan).

Bisa diduga, pertemuan dua kubu satu ras itu kemudian memicu ketegangan di Dongmakgol. Kedua belah pihak saling ancam dan menodongkan senjata ke arah lawan dengan penduduk sebagai sandera. Suasana mulai kacau ketika granat yang dipegang Taeg ki jatuh, akibatnya serdadu kedua belah pihak sibuk menyelamatkan diri, namun penduduk tetap santai karena mereka tak mengetahui bahaya granat tersebut. Untungnya peledak tersebut tidak meledak, namun seusai itu taeg ki malah melempar granat tersebut ke arah belakang, lokasi dimana berada gudang makanan desa Dongkmakgol. Berbeda dengan sebelumnya, granat itu kini meledak dan menghancurkan gudang jagung dan kentang. Lucunya, ledakan tersebut menyebabkan jagung menjadi berubah menjadi pop corn yang berhamburan ke angkasa laksana hujan salju.

Para penduduk Dongmakgol tentu tidk terima persediaan makanan mereka lenyap akibat ulah para tentara Korea tersebut. Kepala Desa akhirnya meminta kubu Lee dan Pyo untuk bekerja selama satu tahun sebagai kompensasi hilangnya jagung dan kentang.

Dari sinilah cerita semakin menarik, karena semakin sering bersama, kelima serdadu dari dua Korea plus seorang tentara AS itu menjadi akrab dan akhirnya berteman. Perseteruan dianatara mereka berubah menjadi kerjasama. Bahkan mereka bahu membahu untuk menghadang serangan pesawat tempur AS dan Korea Selatan yang menggangap Dongkmakgol sebagai pangkalan Korea Utara. Kendati akhirnya baik kubu Lee maupun Pyo seluruhnya tewas dan yang tersisa hanya Kapt Smith.

**
Itulah sekilas kisah Welcome to Dongmakgol, sebuah film Korea yang diproduksi tahun 2005 hasil besutan sutradara Park Kwang hyun dari skenario Jang jin. Film ini mengajarkan persahabatan dan petaka peperangan. Saya pikir bagi anda yang belum pernah menontonnya, film berdurasi 133 menit ini layak untuk dicoba. Dongmakgol juga terpilih sebagai Best Foreign Film category di piala Oscar 2006.Ok, selamat menonton :-).

Oh iya buat adjie, thanks udah minjemin film ini, kayaknya perlu juga gw beli di Vertex buat koleksi, hehe.